Masih ingatkan kita firman apa yang pertama turun pada saat masa kenabian Rasulluah Muhammad SAW? Mari kita simak ayat-ayat berikut ini.
iqra` bismi rabbikallażī khalaq
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,
khalaqal-insāna min ‘alaq
Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
iqra` wa rabbukal-akram
Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,
allażī ‘allama bil-qalam
Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam,
‘allamal-insāna mā lam ya’lam
Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Penggalan surat Al Alaq ayat 1 - 5 di atas adalah firman Allah pertama yang turun pada awal kenabian Nabi Muhammad SAW. Ayat ini mengandung pelaran yang sangat mendalam. Pada ayat ke 5 terlebih lagi. Allah menekankan bawah Allah lah yang nanti yang akan mengajari manusia tentang isi yang terkandung dalam Al Quran.
Aktivitas membaca merupakan kebiasaan yang sangat vital untuk membangun sebuah generasi yang kuat. Menanamkan kegemaran anak - anak membaca berarti menanamkan semangat berlajar mereka yang insyaAllah tidak akan padam. Kebiasaan ini telah terbukti mengantarnya Islam pada masa kejayaannya dari abad ke-8 hingga pertengah abad ke-13. Risalah-risalah yang dibawa oleh Nabi junjungan kita Muhammad SAW berhasil melahirkan tokoh yang ahli di bidangnya mulai dari si ahli matematika Al-Khwarizmi, Ibn Sina (Avicenna) seorang ahil di bidang kesehatan, filsafat, dan ilmu pengetahuan alam, Al Farabi seorang filsuf. Umat islam pada saat itu berlomba-lomba mengkaji Al Quran dan memperdalam ilmu pengetahuan.
Hadist yang dikisahkan oleh Buraidah, Rasulullah saw bersabda, “Siapa yang membaca Al-Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan) yang tidak pernah didapatkan di dunia. Keduanya bertanya, ‘Mengapa kami dipakaikan jubah ini?’ Dijawab, ‘Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al-Qur’an.” (HR Abu Daud)
Hadist di atas menakankan peran orang tua dalam menanamkan kebiasan anak untuk mempelajari Al-quran. Kelak Allah akan membalas baik di dunia maupun saat kita masuk ke alam Akhirat. InsyaAllah.
Lalu di usia berapa kita dapat mengal kebiasaan ini kepada anak? Jawabannya adalah sedini mungkin. Kenapa? Mari kita liat kenyataan di depan mata kita dimana media sosial dan dominasi gawai yang membuat generasi Z mulai meninggalkan buku dan fokus pada gawai yang terus mereka pegang setiap saat. Namun jangan pernah ada kata terlambat dalam menanamkan nilai baik kepada anak kita.
Dari sejak anak di dalam rahim seorang ibu, mulai kita membiasakan membacakan buku utamanya lagi kitab Suci Alquran. Ketika bayi sudah lahir di dunia, kebiasaan itu jangan sampai terputus. Karena sebuah aktivitas yang dilakukan secara terus menerus akan berubah menjadi kebiasaan. Ketika aktivitas itu sudah menjadi sebuah kebiasaan maka hal tersebut bisa menjadi sebuah tradisi yang tidak alasan untuk kita meninggalkannya karena kebaikan akan tradisi sudah dirasakan tidak hanya yang malakukannya namun orang-orang di sekitarnya. .
Anak-anak di setiap tahapan pertumbuhannya, punya cara memahami buku yang berbeda. Secara garis besar, bayi memiliki kecenderungan untuk menikmati suara dan kedekatan. Ketika masuk ke tahapan balita, mereka mulai mengenal gambar dan kata sedang ketia dia sudah melwat masa balita ke tahapan anak-anak, mereka akan lebih memllih aktifitas yang melibatkan berinteraksi dan suka mendengarkan cerita. Semua tahapan memliki keunikannya sendiri jika kita benar-benar menyelamainya, yang membuat semua tahapan tersebut menjadi penting.
Untuk membacakan buku pada usia bayi kita perlu memperhaitan beberapa kondisi yang mungkin dapat menjadi panduan bagi ayah bunda dalam memulai kebiasaan baik ini:
- Bayi itu mengerti lewat suara yang hangat dari yang membacakan buku
- Bayi itu mengerti lewat pelukan kita saat membacakan.
- Bayi itu mengerti lewat intonasi seru yang bikin mereka tertawa.
- Bayi itu mengerti lewat halaman yang dibalik dengan penuh rasa ingin tahu.
- Bayi itu mengerti bahwa membaca itu menyenangkan
Tentu untuk bunda dan ayah perlu meluang waktu waktu untuk mencoba sampai pada kondisi dimana ayah dan bunda beserta sang anak mereasa nyaman pada aktivitas ini apa lagi kita. Semakin sering kita mencoba kita akan menemukan bagiaman metode yang tepat untuk membersamai anak kita dan menciptakan generasi yang kuat ilmu pengetahuannya mellaui kebiasaan membaca seperti yang terkandung dalam Surat di bagian pembukaan artikel ini.
Referensi:
